Teladan yang senantiasa mencerahkan itu
bernama Muhamamd Saw. Beliaulah pelita yang benderang, cahaya yang
menyinari kegelapan, pembawa gembira, penghilang duka, penebar manfaat.
Beliau adalah teladan paripurna dalam semua bidang kehidupan.
Mari saksamai bagaimana beliau
berinteraksi dengan istri-istrinya. Saksamai dengan cinta, agar yang
nampak sederhana ini, senantiasa membekas dalam benak dan bisa dijadikan
bekal dalam mengarungi kehidupan yang sementara ini.
‘Aisyah binti Abu Bakar adalah
satu-satunya wanita yang beliau nikahi dalam keadaan perawan. Suatu
ketika, ibunda kaum muslimin ini berkata, “Rasulullah Saw bersandar di
pangkuanku dalam keadaan membaca (menghafal) al-Qur’an,” aduhai
romantisnya pasangan surgawi ini? Lanjut anak Abu Bakar ini, “Padahal
ketika itu aku sedang haid.”
Inilah pelajaran berharga bagi umat
Islam. Pasalnya, bagi kaum Yahudi, ketika seorang wanita datang bulan,
maka ia harus diasingkan. Bahkan, tak diizinkan untuk diberi makan.
Dalam kali lain, saat Baginda Nabi
berbaring bersama Ummu Salamah dalam satu selimut, tiba-tiba istri
beliau itu didatangi haid. Sertamerta, sang istri keluar dari selimut
dan memakai pakaian haidnya. Nabi yang memahami dengan baik semua
perbuatan istrinya itu bertanya, “Apakah kau datang bulan?” Selepas sang
istri mengiyakan, Rasul nan mulia itu memanggilnya dan keduanya kembali
berbaring dalam selimut yang sama.
Beliau Saw juga amat memuliakan istrinya
ketika bertamu. Pernah dikisahkan oleh sahabat Anas bin Malik. Ketika
itu, Rasulullah Saw diundang oleh tetangganya, orang Persia. Pertama
kali, Rasulullah Saw bertanya, “Bagaimana dengan ini?” Maksudnya, beliau
meminta izin kepada tuan rumah, apakah boleh jika menyertakan sang
istri (‘Aisyah Ra) untuk mendatangi undangan itu?
Pada jawaban pertama, sang tuan rumah
tak mengizinkan. Kemudian, sang Nabi pun menolak undangan itu sebab tak
diizinkan menyertakan istrinya. Tak lama, tetangga itu kembali datang
dengan undangan serupa. Ternyata, Nabi memberikan pertanyaan yang sama
dan dijawab sama pula oleh tuan rumah. Maka pada kali kedua, Rasul
kembali menolak undangan tersebut dengan alasan serupa.
Untuk ketiga kalinya, tuan rumah
mengundang Rasulullah Saw. Kali ini, beliau memberikan pertanyaan yang
sama, bolehkah menyertakan istriku dalam menghadiri undanganmu? Sebab
dijawab, “Silakan,” maka sang Nabi pun menghadiri undangan tersebut
bersama istrinya.
Begitulah diantara bentuk pemuliaan
Rasulullah Saw kepada istri-istrinya. Beliau amat memahami dan
menghormati mereka. Beliau adalah suami terbaik dan tak pernah ada yang
menandinginya. Jika seorang suami adalah penampung kepribadian istrinya,
maka Rasulullah Saw berhasil menampung semua kepribadian istri beliau
di dalam dirinya.
Sebuah keutamaan yang sama sekali tak bisa dilakukan oleh satu orang pun selepas beliau hingga Hari Kiamat kelak.
Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad.

0 komentar:
Posting Komentar