Semakin dalam menyelami kehidupan
Rasulullah Saw, maka seseorang akan semakin haus sebab ketinggian hikmah
dan ilmu yang terdapat di dalamnya. Kehidupan yang telah dijalani oleh
Rasulullah Saw dan para sahabatnya adalah kehidupan terbaik yang tidak
akan pernah ada tandingannya hingga akhir zaman.
Terkisahlah dari ‘Aisyah istri Rasulullah
Saw yang mulia. Anak Abu Bakar ash-Shidiq ini menuturkan kepada kita
sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari. Ia berkata, “Ada seorang
wanita berkulit hitam yang masuk Islam. Ia mempunyai sebuah rumah kecil
nan sempit di dekat masjid.”
Yang menarik dari sosok wanita yang tak
disebutkan namanya ini, “Ia sering datang dan berbicara kepada kami,”
tutur ‘Aisyah. Terkesan aneh, tiap kali selesai dengan hajatnya untuk
berkeluh kesah, wanita itu selalu berkata, “Dan hari selempang adalah
bagian dari keajaiban Tuhan kita. Ketahuilah, Dia telah menyelamatkanku
dari negeri kafir.”
Tentang makna kalimat kedua, bisa
dipahami dari jalan hidup yang ia pilih dengan kembali ke dalam pangkuan
Islam. Namun, tentang Hari Selempang yang disebutnya itu, ‘Aisyah
bertanya, “Apakah hari selempang itu?”
Inilah diantara ciri orang berilmu. Ia
akan meminta keterangan tentang sesuatu yang memang tidak diketahuinya.
Bukan bermaksud menguji, tetapi untuk mengilmui apa yang disampaikan
kepadanya.
Kemudian, sebagaimana disebutkan dalam
hadit nomor 3835 oleh Imam Bukhari ini, wanita itu berkisah, “Dulu,” ia
memulai, “ada seorang anggota keluargaku yang keluar dengan mengenakan
selempang dari kulit.”
Qadarullah, selempang itu terjatuh. Pada
saat bersamaan, datanglah seekor burung. Sebab terbuat dari kulit,
burung tersebut mengiranya sebagai daging.
Lantaran kejadian itu, wanita hitam
berkulit hitam itu menjadi tertuduh. Oleh anggota keluarganya, ia
dipaksa mengakui kejahatan yang sama sekali tidak diketahui dan
dikerjakannya. Kata wanita malang itu, “Mereka menyiksaku dan meggeledah
bagian depan tubuhku.”
Kemudian, ketika orang-orang
mengelilinginya, memaksanya untuk mengakui sembari menyiksanya,
datanglah burung pembawa selempang tadi dan menjatuhkannya tepat di
tengah kerumunan tersebut. Seperti mendapat durian runtuh, sambil
menahan sakit, malu dan bangganya karena mendapat pertolongan Allah Swt,
ia bertutur, “Itulah yang telah kalian tuduhkan kepadaku. Padahal, aku
bebas dari tuduhan itu.”
Demikianlah kebenaran. Meski dikeroyok,
Allah Swt akan memenangkannya. Demikianlah tabiat fitnah, makar dan tipu
daya; meskipun banyak nan mayoritas, Allah Swt akan membuatnya kalah
dan bercerai berai.

0 komentar:
Posting Komentar