Sepeninggal Ummu Khadijah binti
Khuwailid, Rasulullah Saw menikah dengan banyak istri sekaligus. Dalam
kesemua pernikahan itu, beliau memiliki alasan strategis di samping
menjalankan perintah Allah Swt. Hal ini bisa dipahami karena beliau
tidak pernah sekalipun melakukan sesuatu karena nafsu, tapi berdasarkan
wahyu.
Istri pertama yang beliau nikahi adalah
Saudah binti Zum’ah. Beliau menikahi sahabiyah mulia ini karena
membutuhkan adanya sosok ibu untuk merawat Fathimah az-Zahra yang ketika
itu masih belia sepeninggal sang ibu, Khadijah binti Khuwailid.
Tak lama kemudian, Rasul juga menikah
dengan ‘Aisyah binti Abu Bakar, meski baru hidup serumah tiga tahun
sebelumnya. Ketika kedua istri ini sudah hidup bersama di Madinah, ada
kisah amat mencerahkan nan inspiratif tentang bagaimana keluarga Rabbani
ini menjalani hidup yang diselingi canda tawa sebagaimana manusia pada
umumnya.
Kala itu, datanglah Saudah binti Zum’ah
ke rumah ‘Aisyah binti Abu Bakar. Ketika itu, Rasulullah Saw tengah
berada di rumah ‘Aisyah.
Kepada Saudah, ‘Aisyah menceritakan bahwa
dirinya baru saja memasak tepung dengan minyak samin. Ia meminta
madunya itu untuk menikmati masakannya. Kata anak Abu Bakar ini,
“Makanlah.” Sang tamu yang ditawari makanan itu berkata, “Aku tidak akan
memakannya.”
Tetap bersemangat, ‘Aisyah melanjutkan
tawarannya seraya ‘mengancam’, “Demi Allah, kau harus memakannya atau
aku akan mengoleskan makanan ini (tepung) ke wajahmu.” Tanpa
menghiraukan ‘ancaman’ itu, sang tamu tetap bersikukuh, “Aku tidak akan
mencicipinya.”
Tentu, di sini tak ada konflik yang
tengah terjadi. Ibu-ibu kita ini hanya hendak memberikan pelajaran
tentang perlunya kita bercanda dalam berumahtangga sebagai salah satu
sarana untuk berhibur dan mengendorkan syaraf yang memikirkan masalah
kehidupan yang tak ada pangkal ujungnya dan silih berganti saban waktu.
Maka, cobalah melihat bagaimana ekspresi
Rasulullah Saw. Sebagaimana dikeluarkan hadits ini oleh Ibnu Abi Dunya,
“Maka aku (‘Aisyah) mengambil sedikit tepung, kemudian mengusapkannya ke
wajahnya (Saudah).”
Melihat kejadian ini, sang Nabi justru
tertawa kemudian mengambil posisi duduk di antara keduanya. Ternyata,
Saudah tidak tinggal diam. Beliau melakukan aksi serupa, mengambil
tepung, kemudian mengusapkannya ke wajah ‘Aisyah Ra sebagai bentuk
balasan.
Ketika itu, Rasulullah Saw yang berada di
tengah keduanya mengambil posisi merendahkan lututnya agar Saudah bisa
membalas perlakuan ‘Aisyah dengan mudah. Beliau yang mulia, kemudian
melanjutkan tawanya ketika pembalasan Saudah berhasil dengan sempurna.
Akhirnya kita mengerti, dalam keluarga
kenabian itu, bercanda sudah menjadi hal yang lumrah. Bahkan, dalam
tahap tertentu, bercanda menjadi sebuah kebutuhan sebab hidup memang tak
selalu mulus. Ada ujian, dan bercanda adalah salah satu hiburan bahkan
obatnya.
Jika rumahtangga kita sepi dari canda,
mungkin itu adalah petunjuk harus lebih memperbanyak membaca kisah hidup
Rasulullah Saw dan berkeinginan kuat untuk mempraktekannya. Tentu,
materi dan cara bercanda tidak boleh melanggar aturan yang sudah Allah
Swt sebutkan di dalam firman-Nya dan sabda Nabi-Nya.

0 komentar:
Posting Komentar